Bekasi Timur - mediatitikkarya.com - Tiga orang penumpang yang terhimpit di dalam gerbong KRL akibat tabrakan di Stasiun Bekasi Timur, berhasil dievakuasi pada Selasa (28/04/2026) pagi, kata Basarnas. Belum diketahui apakah masih ada korban lain di dalam gerbong tersebut.
"Barusan yang terevakuasi tiga [penumpang]," kata Kabasarnas Mayjen M Syafii kepada wartawan di Stasiun Bekasi Timur, Selasa (28/04/2026).
Tim Basarnas kemudian menyerahkan tiga korban tersebut kepada tim medis.
Sampai sekitar pukul 08.15 WIB, belum ada keterangan resmi apakah masih ada korban yang masih terhimpit di dalam gerbong KRL.
Sementara, korban meninggal dunia akibat tabrakan antara Kereta Api Argo Bromo Anggrek dengan Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur, Senin (27/04/2026) malam, bertambah menjadi 18 orang.
Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin mengatakan, hingga pukul 08.45 WIB, tercatat 14 orang meninggal dunia. Kemudian kami temukan lagi Korban sehingga sementara menjadi 18
Korban meninggal dunia telah dibawa ke RS Polri Kramat Jati untuk proses identifikasi lebih lanjut.
Adapun 88 korban luka-luka tengah dirawat di sejumlah fasilitas kesehatan.
Mereka antara lain dirawat di RSUD Bekasi, RS Bella Bekasi, RS Primaya, RS Mitra Plumbon Cibitung, RS Bakti Kartini, RS Siloam Bekasi Timur, RS Hermina, serta RS Mitra Keluarga Bekasi Timur dan Barat.
Dilaporkan seluruh korban meninggal dunia dan luka-luka adalah penumpang KRL.
Sementara itu seluruh penumpang KA Argo Bromo Anggrek yang berjumlah 240 orang sudah dievakuasi dalam kondisi selamat.
Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menyampaikan duka dan permohonan maaf kepada pelanggan.
"Kami menyampaikan duka mendalam dan permohonan maaf atas kejadian ini. Fokus kami saat ini adalah memastikan seluruh korban mendapatkan penanganan terbaik. Kami memahami kesedihan yang dirasakan keluarga, dan terus berkoordinasi dengan seluruh pihak terkait agar proses penanganan berjalan dengan baik," ujarnya.
Menurutnya, seluruh penumpang KA Argo Bromo Anggrek yang berjumlah 240 orang telah berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat.
Penanganan difokuskan kepada penumpang KRL yang terdampak.
Apa perkembangan terbaru dalam upaya evakuasi korban?
Upaya evakuasi terhadap sejumlah penumpang yang terjebak dalam gerbong KRL yang rusak akibat tabrakan, masih terus dilakukan sampai Selasa (28/04/2026).
Dalam rilis yang diterima mediatitikkarya.com pada Selasa pagi, Tim SAR mengungkap setidaknya enam kali proses evakuasi sejak Selasa dini hari hingga Selasa pagi.
Pada pukul 02.42 WIB, tim SAR berhasil mengevakuasi satu korban dalam kondisi meninggal dunia yang belum teridentifikasi dan langsung dibawa ke rumah sakit.
Selanjutnya pada pukul 04.17 WIB, satu korban selamat atas nama Nurul (26) berhasil dievakuasi dan dirujuk ke RSUD Kota Bekasi.
Proses evakuasi berlanjut pada pukul 05.49 WIB dengan keberhasilan penyelamatan korban atas nama Ata (30), disusul pada pukul 05.59 WIB satu korban kembali ditemukan dalam kondisi meninggal dunia dan langsung dievakuasi ke rumah sakit.
Tidak berselang lama, pada pukul 06.25 WIB tim berhasil menyelamatkan Mia (26), kemudian pada pukul 06.55 WIB korban selamat atas nama Siti Fatonah (47) berhasil dikeluarkan dari rangkaian kereta.
Memasuki pukul 07.25 WIB, satu korban selamat lainnya atas nama Endang Kuswati (40) juga berhasil dievakuasi dan segera mendapatkan penanganan medis.
Kepala Kantor SAR Jakarta, Desiana Kartika Bahari, mengatakan operasi SAR masih terus difokuskan pada pencarian dan evakuasi korban yang diduga masih berada di dalam rangkaian kereta.
"Prioritas kami adalah menemukan dan mengevakuasi seluruh korban secepat mungkin," ujar Desiana.
Bagaimana kronologinya?
Manajer Humas Daop 1 KAI, Franoto Wibowo, menyebut kejadian bermula ketika KRL Commuter Line menabrak taksi sehingga posisinya terhenti, sekitar pukul 20.40 WIB
Saat KRL itu berhenti, KA Argo Bromo rute Gambir-Surabaya menabrak dari belakang.
Keterangan Franoto dikuatkan penuturan saksi mata.
Munir, seorang penumpang KRL Commuter Line, mengatakan, kejadian itu bermula saat kereta yang ia tumpangi dari arah Jakarta menuju Cikarang sedang berhenti di Stasiun Bekasi Timur.
Kereta itu berhenti cukup lama lantaran beberapa ratus meter dari stasiun, KRL Commuter Line dari arah Cikarang menuju Bekasi menabrak satu unit mobil taksi. Posisi mobil itu melintang di tengah perlintasan rel sehingga kereta tidak bisa melaju.
Saat KRL Commuter Line menuju Cikarang menunggu di stasiun, dari arah belakang KA Argo Bromo Anggrek menghantam menabrak KRL mengenai gerbong belakang bagian khusus wanita di stasiun tersebut.
"Gerbong masinis kereta jarak jauh itu sampai nembus gerbong KRL," kata Munir sebagaimana dikutip Tribunnews.
Sejumlah saksi mata menyebutkan gerbong perempuan yang terletak di bagian paling belakang rangkaian KRL Commuter Line adalah yang terdampak paling parah.
"Gerbong di bagian wanita hampir setengah dimasuki kepala kereta jarak jauh," kata saksi mata bernama Maksus kepada Republika Online.
Riska, salah satu penumpang di gerbong tujuh mengatakan kejadiannya sedemikian mendadak. Gerbong yang ia naiki terguncang hebat saat kecelakaan terjadi. Banyak penumpang kemudian berteriak histeris dan berupaya menyelamatkan diri.
Apa keterangan awal PT KAI tentang penyebab tabrakan?
Masih belum diketahui secara pasti berbagai faktor yang menjadi penyebab tabrakan tersebut.
Namun dari hasil identifikasi sementara PT KAI, tabrakan itu diawali peristiwa "sebuah taksi listrik mogok berhenti di tengah tengah perlintasan Rel KRL dekat Stasiun Bekasi Timur," kata Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin kepada wartawan, Selasa (28/04).
Peristiwa ini, lanjutnya, diduga menimbulkan "gangguan pada perlintasan".
"Dimulai dengan adanya temperan taksi listrik hijau ya, itu di JPL 85. Sehingga ini yang kami curigai itu membuat sistem perkeretaapian di daerah stasiun emplasemen Bekasi Timur ini agak terganggu," ungkapnya.
Beberapa laporan media menyebut "taksi hijau" itu salah-satu armada taksi milik perusahaan taksi berbasis listrik Green SM Indonesia.
Dalam unggahannya di Instagram dan Facebook, Selasa (28/4/2026), Green SM Indonesia membenarkan bahwa "taksi hijau" itu adalah miliknya.
Green SM Indonesia mengatakan tengah berkoordinasi secara aktif dengan supir maupun pihak berwenang.
Dan, "mendukung penuh proses investigasi yang sedang berlangsung."
Bagaimanapun, Bobby Rasyidin mengatakan, KAI menyerahkan proses investigasi insiden tabrakan ini kepada Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).
Investigasi KNKT itu, lanjutnya, guna memastikan penyebab tabrakan tersebut.
"Untuk penyebab kejadian, kami menyerahkannya kepada KNKT agar dapat ditelusuri secara lebih mendalam," ujar Bobby
Sementara itu, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memastikan pihaknya akan melibatkan KNKT untuk menyelidiki penyebab tabrakan tersebut.
Hal itu ditegaskan Menhub Dudy Purwagandhi kepada wartawan di Stasiun Bekasi Timur, Selasa (28/04).
"Kami juga memberikan kesempatan kepada KNKT untuk melakukan investigasi, melihat secara objektif penyebab dari kecelakaan yang terjadi pada malam hari ini," kata Dudy.
Dudy menambahkan insiden ini menjadi pelajaran penting bagi PT KAI dan pemerintah dalam meningkatkan pelayanan yang aman dan nyaman.
"Sekaligus juga yang paling utama memberikan keselamatan kepada penumpang," kata Dudy.
Berapa banyak korban?
Korban meninggal dunia akibat tabrakan antara Kereta Api Argo Bromo Anggrek dengan Kereta Rel Listrik Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur, Senin (27/04) malam, bertambah menjadi tujuh orang.
"Jumlah korban kecelakaan kereta tadi malam, meninggal dunia itu delapan belas orang," kata Dirut KAI Bobby Rasyidin kepada wartawan di Stasiun Bekasi Timur, Kota Bekasi, Jawa Barat.
Adapun total ada 88 korban luka-luka yang dirawat di sejumlah rumah sakit, kata nya.
Mereka dirawat di beberapa fasilitas kesehatan, antara lain RSUD Bekasi, RS Bella Bekasi, RS Primaya, RS Mitra Plumbon Cibitung, RS Bakti Kartini, RS Siloam Bekasi Timur, RS Hermina, serta RS Mitra Keluarga Bekasi Timur dan Barat, ungkap keterangan tertulis PT KAI, Selasa (28/04).
Sementara itu, sampai sekitar pukul 07.00 WIB, Selasa (28/04), tim penyelamat masih berusaha untuk mengevakuasi beberapa penumpang yang dilaporkan masih terperangkap dalam gerbong KRL.
Dia menambahkan, KAI membangun posko tanggap darurat di Stasiun Bekasi. ( Red)


